Mendayagunakan potensi strategis desa baik potensi alam, potensi sumber daya manusia, potensi produk unggulan, potensi sosial budaya serta keagamaan, potensi pemuda, olahraga, dan pendidikan.
Peningkatan sarana dan prasarana secara bertahap sebagai penunjang percepatan ekonomi masyarakat meliputi:
Peningkatan infrastruktur jalan baik jalan desa, jalan poros desa, serta jalan lingkungan dukuh, RT, dan RW.
Peningkatan sarana prasarana ekonomi yaitu di bidang pertanian dan pembangunan pasar desa.
Peningkatan dan pembangunan sarana prasarana olahraga, Kesehatan, dan pelayanan publik.
Pembangunan prasarana umum termasuk lampu penerangan jalan.
Peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan formal dan non formal sejak usia dini menuju terwujudnya masyarakat Desa Cepoko yang cerdas, terampil, dan berakhlak mulia.
Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang transparan, akuntabel dengan melibatkan masyarakat dalam merencanakan, memutuskan, dan melaksanakan.
Peningkatan kapasitas kinerja Aparatur Pemerintah Desa yang melayani masyarakat dengan amanah dan profesional berbasis digital.
Memberdayakan lembaga desa dan karang taruna sebagai mitra strategis Pemerintah Desa.
Struktur Organisasi Badan Permusyawaratan Desa
Setiap desa memiliki sejarah yang mencerminkan karakter dan jati dirinya, begitu juga dengan Desa Cepoko. Menurut cerita turun-temurun, desa ini bermula dari kedatangan Mbah Ribuk, seorang tokoh sakti layaknya wali. Beliau menancapkan tongkat di Dukuh Poko (pambuko = pintu), yang kemudian tumbuh menjadi pohon cempaka dan hingga kini masih dilestarikan sebagai peninggalan keramat. Dari jejak beliau pula, ajaran Islam mulai menyebar, menggantikan kepercayaan animisme, ditandai dengan berdirinya masjid dan mushola di wilayah Cepoko.
Tradisi leluhur menyebutkan, setiap pemimpin Desa Cepoko wajib berziarah ke makam Mbah Ribuk di Dukuh Krajan sebagai penghormatan dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada masa kolonial Belanda, Desa Cepoko resmi terbentuk dengan enam dukuh: Tanggung, Krajan, Kembang, Slorok, Ngandel, dan Jati. Tiap dukuh dipimpin kepala dukuh dengan perangkatnya, seperti bayan, jogoboyo, jogowaluyo, dan jogotirto.
Selain sejarahnya, Desa Cepoko juga memiliki sistem pengelolaan tanah sejak zaman dahulu. Berdasarkan asal-usulnya, ada tanah yasan (hasil membuka hutan), tanah pusaka (warisan keluarga), dan tanah pakulen (pemberian desa). Sedangkan berdasarkan penggunaannya, ada tanah bengkok yang menjadi hak pejabat desa sebagai upah jabatan, serta tanah suksara yang dikelola untuk kemakmuran masyarakat.
Hingga kini, Desa Cepoko tetap menjaga warisan budaya, tradisi spiritual, serta sistem sosialnya sebagai identitas yang membedakannya dengan desa lain.
Sejarah Pembangunan Desa Cepoko
Pembangunan Desa Cepoko tercatat melalui berbagai era kepemimpinan, yang masing-masing meninggalkan jejak penting bagi kemajuan desa.
Ki Bekel Ribuk (tahun tidak diketahui) – Pendiri Desa Cepoko, membuka hutan menjadi pemukiman.
Demang Mistono Wiryo (tahun tidak diketahui).
Sahir (tahun tidak diketahui).
Suwiryo (tahun tidak diketahui) – Membagi Desa Cepoko menjadi enam dukuh.
Rusman (1946–1972) – Membuka jalan tembus Ngrayun–Tanggaran, dikenal sebagai pemimpin disiplin dan tegas.
Suyatmo (1973–1990) – Membudayakan sistem lingkungan dan mendorong peningkatan pembangunan desa.
Pamudji (1991–1998) – Mendirikan SMP Negeri 3 Ngrayun, melanjutkan peningkatan pembangunan.
Maryanto (1998–2001) – Membangun jalan sistem macadam, merumuskan pembangunan di semua bidang, namun kemudian mengundurkan diri.
Pirngadi (2001–2003, Pjs.) – Merehab Balai Desa, menghadirkan program PIDRA dan PKK, serta melanjutkan pemerintahan sebelumnya.
Sunarno (2003–2009) – Mewujudkan pemerintahan desa yang ayem tentrem serta menghadirkan program PNPM Mandiri.
Pirngadi (2009–2010, Pjs.) – Membangun Gedung PKK dan Gapoktan, mencetuskan visi-misi desa, serta menyiapkan pemilihan kepala desa berikutnya.
Dwi Cahyanto, S.Sos. (2010–2016) – Membuka Pasar Desa, merintis peternakan sapi perah, memperbaiki infrastruktur jalan, merehab total Balai Desa, membangun sarana ekonomi, serta membuka wisata Banyu Anjok di Dukuh Slorok.
Dwi Cahyanto, S.Sos. (2016–2022) – Melanjutkan pembangunan infrastruktur, membuka wisata Paralayang di Gunung Kotak Dukuh Jati, serta menghadirkan program-program nasional seperti TMMD dan BSPS untuk rehabilitasi rumah tidak layak huni.