A. BUDIDAYA JAGUNG DI LAHAN KERING (TEGALAN)
Selain komoditas rimpang dan porang, jagung merupakan salah satu tanaman pangan semusim yang menjadi andalan mayoritas petani di Desa Cepoko. Memanfaatkan lahan kering (tegalan), pekarangan, dan area terasering perbukitan, budidaya jagung biasanya diintensifkan pada awal musim penghujan. Masa perawatannya yang relatif mudah, tahan terhadap kondisi cuaca fluktuatif, serta kemampuannya tumbuh optimal di lahan tadah hujan menjadikan komoditas ini sangat diminati oleh warga. Varietas yang umum dikembangkan di desa ini meliputi jagung hibrida unggul untuk kebutuhan industri maupun jagung komposit untuk konsumsi lokal.
B. NILAI EKONOMI PANEN DAN PENOPANG SEKTOR PETERNAKAN
Hasil panen jagung di Desa Cepoko memiliki rantai pemanfaatan ekonomi yang sangat terintegrasi. Jagung yang telah dipipil dan dijemur hingga kering (pipilan kering) diserap oleh pasar secara masif sebagai pasokan bahan baku utama untuk pabrik pakan ternak tingkat nasional maupun regional. Di sisi lain, masyarakat lokal juga masih melestarikan pengolahan jagung menjadi produk pangan kearifan lokal bernilai jual, seperti nasi jagung (nasi ampok) dan makanan ringan. Menariknya, sistem pertanian jagung di desa ini mengusung konsep zero waste (tanpa limbah), di mana daun dan batang jagung (tebon) dimanfaatkan sepenuhnya oleh warga sebagai sumber pakan hijauan yang bernutrisi tinggi untuk ternak sapi dan kambing.
Bagikan :Â